| |
|
 |
|
|
Sejarah
■ |
Keterbatasan
bisa menjadi motivasi, keprihatinan dapat memacu kreativitas.
Pengalaman hidup Nyonya Meneer merupakan contoh paling tepat.
Keterbatasan dan keprihatinan masa pcndudukan Belanda di
awal 1900-an tidak. menjadikannya putus asa di saat sang
suami jatuh sakit. Bcrbekal sedikit pengetahuan, Nyonya
Mcneer meracik aneka tumbuhan dan rempah untuk diminum
suaminya. Ternyata ramuan itu mujarab, padahal berbagai
pengobatan tidak mampu memulihkan kondisi sang suami
tercinta.
Para kerabat dekat di Semarang segera mencium 'dingin'nya
tangan Nyonya Meneer mengolah jamu. Nyonya Meneer yang
ringan tangan dan sangat peduli pada orang-orang di
sekitarnya dengan senang hati meracik untuk mereka yang
demam, sakit kepala, masuk angin dan terserang berbagai
penyakit ringan lainnya. Sebagian besar yang mencobanya puas.
Semakin
banyak yang merasakan khasiat jamu racikan Nyonya Meneer,
semakin banyak pula permintaan padanya untuk mengantarkan
sendiri jamu yang belakangan mulai dikemasnya itu. Kesibukan
Nyonya Meneer di dapur tidak memungkinkan untuk memenuhi
perintaan itu. Dengan berat hati dia minta maaf, dan sebagai
ganti dia mencantumkan fotonya pada kemasan jamu buatannya.
Tak ada yang keberatan, tak ada pula yang menduga bahwa di
kemudian hari, jamu dengan potret seorang wanita ini
melegenda.
Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga
ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar. Bahkan,
pada tahun 1919, Nyonya Meneer berhasil mewujudkan impiannya,
mendirikan perusahaan "Jamu Jawa Asli Cap Portret Nyoaya
Meneer di Semarang". Untuk mempermudah pelanggan Nyonya
Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang.
Perusahaan terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang
mulai besar. Seorang putrinya, Nonnie hijrah ke Jakarta pada
tahun 1940. Dialah yang merintis dibukanya toko Nyonya
Meneer, di Jalan Juanda, Pasar Baru. Jamu yang tadinya
muncul dari keterbatasan dan keprihatinan ini pun masuk ke
ibukota dan meluas ke seluruh penjuru negeri. |
|